Benarkah Kau Mencintai Anakmu?

Menurut saya, mencintai anak itu ditandai beberapa hal. Pertama, kita mampu membantu anak menemukan potensi dan kekuatan dirinya. Setiap anak pasti punya kelebihan dan kekuatan masing-masing. Jangan “paksa” anak belajar banyak keterampilan padahal boleh jadi itu tidak sesuai potensinya.

Anak-anak yang tumbuh dan besar tanpa mengetahui potensinya membuat mereka minder dan tersiksa. Oleh karena itulah orang tua harus mengerahkan kemampuanmya dengan sungguh-sungguh menemukan kekuatan dan potensi anak.

Melibatkan orang yang expert di bidangnya akan sangat membantu menemukan “berlian atau harta karun terbesar” di dalam diri anak. Setelah potensinya ditemukan, asahlah agar otot, pikiran dan hatinya semakin menyatu menjadi satu kemahiran.

Kedua, membantu menemukan apa yang mampu diraihnya. Dengan potensi sang anak, kita bisa mengarahkan apa yang mampu diraihnya. Ingatlah, setiap anak punya bakat dan potensi yang berbeda. Apa yang bisa mereka raih juga berbeda. Memaksa anak menjalankan profesi sesuai keinginan orang tuanya bukan sesuia potensinya adalah bentuk penyiksaan orang tua kepada anaknya.

Biarkanlah anak-anak meraih mimpinya. Selama itu menjadikan mereka bisa SuksesMulia yang selalu bertumbuh, memberi manfaat kepada masyarakat dan menyelamatkan mereka di akherat, izinkanlah. Menurut saya “wajib” hukumnya bagi orang tua membantu anak menemukan mimpinya dan meyakinkan mereka mampu meraihnya.

Ketiga, tumbuh bersama anak. Setiap anak punya tahapan yang berbeda. Saat anak-anak ia perlu banyak mendapat cerita, nasehat, pelukan, perhatian dan pondasi ilmu agama yang kuat langsung dari orang tanya. Saat remaja, ia perlu banyak didengarkan sebelum kita memberi nasehat, telinga harus lebih banyak difungsikan daripada mulut.

Saat anak sudah memasuki usia dewasa, mereka adalah partner dan teman diskusi. Ajaklah mereka diskusi, dimintai pendapat untuk hal-hal yang perlu. Ajak mereka lebih sering bertemu dengan orang baik dan mendorong mereka aktif di lingkungan atau komunitas yang baik.

Tanpa melakukan ketiga hal di atas, apakah layak menyebut diri kita sebagai orang tua yang mencintai anak?[]Oleh : Jamil Azzaini (Inspirator SuksesMulia | Trainer Laris)

664 total views, 2 views today