Bukan Mahar, Tapi Inilah Pintaku

Al-Anfaal, surat yang bicara tentang perang itu, begitu membekas dalam hatiku. Surat yang membuat hati bergetar saat membacanya. Surat yang kadang membuatku malu hati, sebagai bagian dari generasi muda. Rasanya…. aku masih sangat jauh dari karakter generasi muda yang digambarkan dalam surat itu.

Surat yang dengan tekad kuat lalu kuhafalkan ayat demi ayat hingga akhir surat.

Surat yang saat aku menikah, saat matahari mulai temaram, kuminta suamiku membacanya pelan-pelan, dan aku khusyu mendengarkan, dalam syahdu yang sulit kugambarkan.
Ya, telah beberapa lama aku meminta ini, sebagai permintaan khusus jika beliau ingin menikahiku. Bukan sebagai mahar, tapi hanya sebagai permintaanku saja. Untuk  mahar, meskipun itu hakku sebagai perempuan, aku berpegang pada hadist bahwa “Wanita yang paling banyak berkahnya adalah yang paling ringan mas kawinnya” (HR. Hakim dan Baihaki-red), maka aku tidak menyebutkan apa pun. Biarlah, serela hati beliau saja, semampu beliau memberikan mahar untukku.

Meski tadinya, aku sangat ingin mendapatkan mahar kaset murottal lengkap 30 juz, atau kitab tafsir lengkap ibnu Katsir 30 juz. Tapi kemudian, aku berpikir ulang, karena aku sempat mensurvey ke beberapa toko, tafsir itu sedang cetak ulang dan di mana-mana habis. Baiklah, aku tak akan memberatkan beliau untuk urusan mahar ini. Apalagi seserahan, tidak sama sekali.

Gak pakai seserahan juga tak apa, mangga aja.

Maka, hanya satu permintaanku padanya: minta dibacakan surat Al-Anfal, saat berdua saja, usai aqad. Permintaan yang lalu dipenuhinya usai sholat magrib senja itu, setelah pagi dan siangnya dilangsungkan aqad nikah dan walimah sederhana.

Sungguh, aku sangat ingin pernikahanku adalah bagian dari dakwah, dan tetap seperti itu selamanya hingga Allah memanggil salah satu dari kami.
Aku iri pada Handzolah, yang pada malam pengantinnya ada seruan berjihad, maka tanpa sempat mandi junub dia bergegas ke medan laga, lalu syahid. Hingga dia mendapat julukan Ghasaailul Malaaikah, orang yang dimandikan malaikat.
Aku iri pada sahabat ahlul badar yang karena kesertaannya dalam perang tersebut, lalu dijamin masuk surga. Nikmat terindah apalagi bagi manusia, selain jaminan surga setelah nyawa dipanggil-Nya?
Itulah yang membuatku mengajukan permintaan khusus itu.
Kini, setiap membaca surat Al-Anfal, kenangan tentang momen syahdu 13 tahun lalu itu, selalu terbayang :)
Juga sedih, karena merasa ruh perjuangan yg dulu tercanangkan di awal pernikahan, kini mulai kendur perlahan.
Tapi, semoga belum terlambat, untuk memperbaharui niat, yang tiga belas tahun lalu tertancap. Mari, suamiku, kita bersinergi lebih kuat, hingga kita mesti menjaga sikap & ucap, agar selamat dunia akhirat
*semangadd 13! :)
sore di pamulang, 21 nov 21011
Muktia Farid

http://www.islamedia.web.id/2011/11/bukan-mahar-tapi-inilah-pintaku.html

591 total views, 2 views today