Cantik Berdandanlah Karena-Nya

Berdandan dalam pengertian merawat tubuh dan memperhatikan penampilan memang bukan kegemaran monopoli kaum perempuan semata. Bahkan, bukan pula tiba-tiba muncul pada masa baru-baru ini saja. Berpatokan pada arahan Rasulullah Saw yang jelas-jelas mendorong umatnya untuk merawat tubuh  dan jaga penampilan, kalau masih ada ikhwan yang malas berdandan, boleh dong dibilang ketinggalan jaman!

Sebagai awalnya, kita bisa bercermin dari hadits yang menyatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu indah dan suka pada keindahan. Allah suka melihat tanda-tanda kenikmatannya (nampak) pada diri hambaNya, membenci kemelaratan dan yang berlagak melarat.” (HR Muslim)

Melalui hadits ini kita mendapat pelajaran bahwa Allah yang Maha Indah memang mendorong setiap hamba-Nya untuk mensyukuri nikmat dengan cara menampakkannya secara fisik (nyata), tidak menginginkan umatNya berpura-pura melarat apalagi kalau mereka bisa mengupayakan lepas dari cengkeraman kemelaratan (yang dibenci-Nya) itu.

Tentu ada hikmah tersendiri hingga perkara indah dan keindahan ini disandingkan seiring perkara kemelaratan. Sangat mungkin ini erat kaitannya dengan kondisi penampilan seseorang.

Seseorang yang melarat umumnya memang tergambarkan dengan kondisi penampilan yang kurang indah; kumuh, kusam, dekil, awut-awutan, serampangan bahkan kotor. Tetapi, berkaca dari hadits ini, umat Islam justru diarahkan untuk sedapat mungkin tampil dengan segenap keindahan yang bisa terwujudkan; rapi, bersih, menyenangkan dan menenangkan saat dipandang.

Selain yang tersebut di atas, masih banyak hadits lain yang menunjukkan betapa soal berdandannya umat termasuk para pria di masa Rasulullah saw dan para sahabat telah menjadi sebuah kebiasaan. Dan karena ketaatan pada Rasul merupakan kunci ketaatan pada Allah, maka tak perlulah kita ragu untuk mendorong para pria –mungkin suami, anak, atau ayah kita – siap berdandan – merawat diri dan menjaga penampilan – karena-Nya.

Berdandan untuk bersyukur

Dari Abil Ahwaz dari ayahnya berkata, “Saya datang pada Rasulullah dengan mengenakan pakaian yang buruk. Maka Rasulullah pun berkata, ‘Tidakkah engkau memiliki harta benda?’ dan saya menjawab, ‘Benar, saya memiliki harta benda.’ Rasul bertanya lagi, ‘Apa saja harta bendamu itu?’ saya menjawab pula, ‘Kuda, domba dan kain.’ Lantas Rasulullah saw pun bersabda, ‘Apabila Allah swt memberimu harta maka hendaklah engkau perlihatkan bukti nikmat Allah itu atas dirimu dan buktikan bahwa kamu memuliakan Allah.’” (HR Abu Dawud dan An Nasai)

Berdandan karena fitrah kesenangan

Hadits riwayat Anas bin Malik ra:  “Dari Qatadah ia berkata: Kami bertanya kepada Anas bin Malik: Pakaian apakah yang paling disukai dan dikagumi Rasulullah saw? Anas bin Malik ra menjawab: Kain hibarah (pakaian bercorak yang terbuat dari kain katun).” (HR Muslim)

Hadits riwayat Anas bin Malik ra, ia berkata:  Fitrah manusia ada lima yaitu dikhitan (disunat), mencukur rambut kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (kuku tangan dan kaki) serta mencukur bulu ketiak. (HR. Bukhari)

Hadits riwayat Barra’ ia berkata: “Rasulullah saw adalah seorang lelaki yang berperawakan sedang, berpundak lebar dan berambut lebat sampai ke batas daun telinga. Beliau suka mengenakan pakaian warna merah. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus (lebih indah, lebih tampan) daripada Nabi saw.” (Shahih Muslim No.4308)

Hadits riwayat Anas bin Malik ra:  “Dari Qatadah ia berkata: Saya bertanya kepada Anas bin Malik ra.: Bagaimana penataan rambut Rasulullah saw.? Anas bin Malik menjawab: Rambutnya ikal berombak, tidak keriting dan tidak lurus dan nampak terurai sampai sebatas pundaknya.” (Shahih Muslim No.4311)

Berdandan untuk perawatan diri

Rasulullah berkata; “Malaikat jibril telah terus-menerus (berulang-ulang) berpesan agar aku menggosok gigi (bersiwak) sehingga aku khawatir gigi-gigiku tanggal dan aku ompong tanpa gigi.” (HR Ath-Thahawi)

Suatu ketika Rasulullah berkata, “Wahai Abu Hurairah, potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan itu mengikat (melalui) kuku-kuku yang panjang.” (HR Ahmad)

Mandilah pada hari jumat, berkeramaslah meskipun kalian tidak dalam keadaan junub dan pakailah wewangian.” (HR Bukhari)

Apabila kamu memiliki rambut hendaklah dimuliakan (disisir, dirawat, dirapikan, tidak dibiarkan acak-acakan). (HR Abu Dawud dan Ath-Thahawi)

Berdandan untuk tampil menyenangkan

Aisyah meriwayatkan bahwa pada suatu ketika beberapa sahabat hendak menemui Nabi. Maka Nabi pun bercermin pada air di dalam bejana, mencelupkan tangan lantas merapikan rambut dan jenggotnya. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan itu?” Maka Rasulullah menjelaskan, “Wahai Aisyah, sesungguhnya seseorang itu apabila hendak menemui saudaranya hendaklah dia merapikan dirinya.” (HR Al Baihaqi)

Dari Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah melihat seorang laki-laki dengan rambut kusut masai, hingga beliau berkata (dengan nada tidak suka), “Apakah orang itu tidak punya sisir untuk merapikan rambutnya?” Lantas Rasulullah melihat laki-laki yang mengenakan pakaian kumal, lalu beliau berkata, “Apakah dia tidak punya air untuk mencuci pakaiannya?” (HR Abu Dawud)

Suatu ketika Abbas bin Abi Thalib ra nampak tengah mematut dirinya di cermin dan nampak memperbaiki penampilannya. Diapun ditanya tentang apa yang dilakukannya dan menjawab, “Aku tengah berhias untuk istriku sebagaimana istrikupun selalu berhias untuk diriku.”

Seseorang bertanya kepada Umar bin Khattab, “Pakaian apakah yang baik untuk dikenakan?” Umar pun menjawab, “Pakaian yang bila kamu kenakan kamu tidak akan dihinakan oleh orang-orang bodoh namun tidak akan dicela oleh orang-orang pandai.”

1,328 total views, 2 views today