Cinta Allah Lebih dari Segalanya

Sudahkan kita telah memiliki rasa cinta kepada Allah yang melebihi rasa cinta kita kepada apapun yang bukan dalam rangka mencintaiNya. Jika belum, sekaranglah saatnya untuk memulai mencintai Allah melebihi segalanya. Pada saat itulah, kita akan mendapatkan ketenagan batin dan ketentraman jiwa. DISANALAH MATA AIR KEBAHAGIAAN.

Suatu ketika Rasulullah memimpin sholat subuh. Seperti biasa beliau membaca bacaan dalam sholat dengan tartil dan penuh penghayatan. Usai membaca surah Al Fatihah, beliau kerap membaca surah Al-Baqarah hingga selesai. Rasulullah tidak lantas ruku’, tapi melanjutkan dengan bacaan surat Ali Imron, juga sampai ayat yang terakhir. Setelah merampungkan surat Ali Imron, surat An Nisa pun dikhatamkan. Seluruhnya dilakukan dengan penuh khusu’.


Setelah itu baru Rasulullah ruku’. Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa ruku’ beliau hampir sama panjang dengan berdirinya. Begitupun sujud dan duduk antara dua sujud hampir sama lamanya dengan ruku’.

Setelah salam, pemimpin umat itu menghadapkan wajahnya yang bersih kepada para jamaah. Beliau perhatikan satu persatu wajah
sahabatnya. Dalam wajah-wajah itu terlukis gurat tanda kepuasan, rilex, damai dan segar.

Mari kita tengok bagaimana kualitas sholat kita selama ini. Bagaimana sholat yang kita lakukan selama ini. Apakah kita mengerjakannya sekedar hanya mengugurkan kewajiban. Apakah sholat yang kita lakukan memberi kedamaian dihati kita. Sudahkan kita menjadikan sholat sebagai sarana untuk berdialog dan bercinta dengan Allah. bila iya, bersukurlah kepadaNya.

Sholay yang khusu’ adalah rahasia mengapa Rasul dan para sahabat justru merasa nikmat luar biasa dan berseri-seri setelah menunaikannya. Rasulullah pernah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, tenangkan hati kami dengan menunaikan sholat..!”. Rasulullah dan para sahabat telah menemukan kedamaian dalam sholat. SEMUA KARENA CINTA ALLAH DIATAS SEGALANYA.

Ada kisah menarik yang menggambarkan dahsyatnya cinta karena Allah dapat mempengaruhi seseorang. Seorang yang hidup dalam kubangan jahiliyah bertobat, dan berjanji takkan mengulangi kisah hidupnya yang kelam. Dan dia pun telah bergabung dalam kafilah dakwah. Ketika ia telah berazzam untuk segera menikah, diapun melaporkan pada murabbinya, “Ustadz, saya udah siap untuk menikah”. Lalu terjadilah proses dari tukaran foto dan biodata, taaruf, lalu istikhorah. Ditengah perjalan proses itu hampir terjadi pembatalan, karena abang calon istri mengetahui siapa dia dan masa kelamnya. namun karena azzam yang kuat dan yakin akan pertolongan Allah, merekapun tetap yakin. Bahkan ketika orang tuanya mau melamar gadis itu, tanpa disangka kedua orang tua mereka adalah kawan dimasa lajang dulu, puluhan tahun tak pernah berjumpa, perjumpaan mereka adalah untuk menyatukan anaknya dalam ikatan suci, mereka pun berpelukan haru, dan semuanya menjadi mudah. Subhanallah. SEMUANYA KARENA CINTA ALLAH DIATAS SEGALANYA

Syahdan, rasa cinta inilah yang membuat Zulaikha yang akhirnya diperistri oleh Nabi Yusuf, tak beranjak dari mihrabnya memuji dan bercinta dengan Allah beberapa waktu lamanya. Konon sampai nabi Yusuf menegurnya, “Wahai istriku, aku ini suamimu, tunaikanlah tugasmu.”
“Salah sipa kau kenalkan aku pada Allah yang lebih gagah dan lebih sempurna dari seluruh alam,” jawab Zulaikha. Zulaikha yang sebelumnya tergila-gila pada Yusuf, ternyat setelah kenal dan cinta pada Allah, justru melupakan yang dicintainya dulu.

Wallahu’Alam bisshowab.

960 total views, 2 views today