Curhat : Apakah Aku di Permainkan Calon Suami

Pertanyaan : Sebagai seorang wanita saya merasa dipermainkan oleh calon suami. Bermula karena ada kesalahpahaman, tiba-tiba memutuskan untuk mundur. Awalnya, saya menerima karena dia berkomitmen untuk serius dan saya pun demikian. Dalam perjalanan proses taaruf, ada sedikit masalah ketika kami membicarakan target menikah.

Saya menargetkan enam bulan atau paling lama satu tahun setelah selesai kuliah. Dia maunya secepatnya atau enam bulan ke depan. Memang terlontar dari saya kalimat, “Kalau menunggu saya dianggap terlalu lama, maka silakan saja dengan yang lain,” dan dia pun setuju dengan itu. Eh, ternyata, dia diam-diam menjalin hubungan dengan akhwat lain tanpa sepengetahuan saya. Kata seorang teman, dia akan menikah bukan dengan saya.

Saya merasa dipermainkan karena justru tahu kabar tersebut pertama kali dari teman. Sebagai seorang wanita, jujur saya kecewa. Baiknya, tindakan apa yang harus saya ambil, Teh? Kenapa dia begitu tega? Saya merasa dilecehkan. Terakhir kali bertemu dengan saya, dia mengiyakan akan menikah dengan yang lain.

Dia taaruf dengan saya, tapi menikah dengan wanita lain. Apakah tindakan saya (menunda menikah hingga satu tahun) itu salah? Saya butuh masukan,  Baru-baru ini, dia kembali menelpon saya. Apakah saya harus mengangkat teleponnya? Dia juga kirim SMS. Apa harus dibalas? Sebenarnya, saya sudah nggak mau lagi dihubungi oleh dia. Mohon nasihatnya, Teh. Jazakallah khair.

Jawab

Ukhti yang dicintai Allah Swt., tenggat waktu taaruf hingga satu tahun saya nilai terlalu panjang, terlebih kalau hanya diisi oleh aktivitas berdua antara ukthi dan calon pasangan. Komitmen yang baru melibatkan Anda berdua dan belum melibatkan orangtua masing-masing memang rentan putus nyambung karena tidak ada pressure pada kedua belah pihak untuk menjaga hijab masing-masing. Pihak ikhwan tidak digiring dan menggiring dirinya untuk berkomitmen lebih lanjut, seperti mengkhitbah dan menikah (terlepas dari selesai atau tidaknya target batas waktu kuliah ukhti).

Saya menilai bahwa hubungan yang uhkti jalin baru sebatas rencana indah sejoli untuk saling menunggu pasangannya menyelesaikan kuliah dan pasangan lainnya dibebaskan untuk menunggu atau memilih akhwat lain (jika tidak berkenan menunggu). Agak susah juga meminta komitmen lebih dari ikhwan tersebut karena dari awal telah dibebaskan memilih. Sayangnya, sang pangeran tidak seperti harapan sang putri yang selalu setia menanti, menahan diri (dengan memperbanyak shaum misalnya), dan akhirnya bersama duduk di kursi pelaminan. Akhirnya, ukhti memang tidak bisa menuntut lebih dan hanya bisa pasrah menerima ketika ternyata sang ikhwan diam-diam merenda hati dan akan menikah dengan yang lain.

Ukhti, sejatinya bingkai taaruf harus berada dalam koridor saling menjaga hijab sejak awal dan berniat tidak membohongi dan menyakiti calon pasangan. Taaruf harus dilandasi oleh tujuan mulia pernikahan dan saling menjaga kejujuran serta kesetiaaan dari awal. Secara etika akhlak, sebaiknya dilakukan satu per satu. Jika tidak cocok dengan seorang akhwat atau ikhwan dalam satu proses taaruf, selesaikan atau tutup proses taaruf tersebut dengan cara yang baik dan setelah itu baru bertaaruf dengan akhwat atau ikhwan yang lain.

Janji adalah utang kepada Allah Swt. sepanjang bukan janji untuk bermaksiat kepada-Nya. Bila sudah tidak cinta kepada calon pasangan, sebaiknya memang berterus terang menyudahi taaruf. Bahkan, khitbah sekalipun masih bisa putus sebelum janur kuning melengkung atau sebelum hari H akad nikah diikrarkan.

InsyaAllah, ada hikmah di balik musibah putusnya ukhti dengan ikhwan tersebut. Nasihat dari saya, berikut ada hal yang perlu ukhti perhatikan untuk proses taaruf selanjutnya, yaitu:

1. Tentukan Kriteria Calon Pasangan Sebelum Menikah

Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaklah utamakan yang beragama, niscaya kamu berbahagia.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Saat Al-Hasan bin Ali ditanya oleh seseorang tentang kepada siapakah putrinya dinikahkan, beliau menjawab, “Dengan laki-laki yang bertakwa kepada Allah sebab dia akan mencintai putriku dan memuliakannya. Jikalau dia marah, niscaya tidak akan menzalimi putriku.”

Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad Saw. berpesan, “Apabila datang kepada kalian laki-laki yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Sebab jika tidak, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (H.R. Tirmidzi)

Komitmen pernikahan hanya dimiliki oleh merka yang berkomitmen pada agama, terutama mereka yang bersifat jujur, sabar, dan pandai mensyukuri nikmat-Nya. Cinta dan kasih sayang adalah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah Swt. (Q.S. Ar-Rum [30]: 21). Hendaknya, proses taaruf atas sepengetahuan orangtua masing-masing dan kedua belah pihak beritikad untuk tidak menzalimi calon pasangannya. Hak akhwat pula untuk menentukan pilihan jodohnya berdasarkan empat kriteria dalam hadits tersebut.

2. Cinta dan Benci Karena Iman

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya keimanan, yaitu menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai-Nya dari selain mereka berdua, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci jika dicampakkan ke dalam api neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Orang-orang yang beriman akan merasakan manisnya keimanan dan ketenteraman serta bersemangat untuk taat kepada Allah Swt. Ketika menghadapi cobaan, dia bersabar dan membenci kemaksiatan. Karenanya, janganlah terlalu cinta dan benci kepada makhluk-Nya agar tetap bisa merasakan manisnya iman dan membenci kekufuran.

3. Musibah adalah Penggugur Dosa

Pahami bahwa musibah bisa menggugurkan dosa dan mengangkat derajat keimanan di hadapan Allah Swt. Dengan demikian, kita tidak harus terlalu larut dalam rasa perih dan sedih ketika menerima musibah.

“Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri, atau yang lebih dari itu, melainkan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan.” (H.R. Muslim). Apa pun kepahitan yang dirasa, insya Allah bisa menjadi penggugur dosa. Juga, yakini bahwa ada hikmah di balik musibah (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216)

4. Perbanyak Doa Terutama Ketika Terzalimi

“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi.”  (H.R. Tirmidzi). Yang Maha Mendengar rintihan hati adalah Allah Swt. Maka, pergunakn sebaik-baiknya fasilitas berdoa terutama saat-saat diijabahnya doa.

5. Melatih Jiwa Pemaaf Allah Swt.

Allah berfirman, “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali Imran [3]: 134). Adanya rasa kecewa, bahkan marah adalah normal. Tapi, hal tersebut jangan berkelanjutan. Segeralah beristighfar dan memaafkan walau tidak diminta karena pemaaf adalah salah satu sifat terpuji dari Allah Swt.

6. Jauhi Dosa-dosa Besar dan Perbuatan Keji.

Proses taaruf memang penuh godaan. Namun, dengan iman dan takwa kepada-Nya, kita dapat melewati semuanya dengan selamat dan benar. Dengan demikian, semoga kita termasuk orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji. (Q.S. Asy-Syuura [42]: 37)

7. Tingkatkan Ketawakalan Kepada Allah Swt.

Hanya kepada Allah semua makhluk bergantung dan memohon pertolongan. (Q.S. Asy-Syuura [42]: 36). Situasi yang tengah ukhti alami hendaknya menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri dan bertawakal kepada-Nya.

Insya Allah, semua yang ukhti alami adalah bentuk kasih sayang Allah kepada ukhti agar ukhti bisa menata hati secara lebih berhati-hati lagi. Saya doakan agar ukhti memperoleh ikhwan pengganti yang lebih baik lagi. Amin. Wallahu a’lam bishshawab.

#http://www.percikaniman.org/category/teh-sasa-esa-agustina/apakah-aku-dipermainkan-ikhwan

1,947 total views, 2 views today