Jika ‘Si Dia’ Selalu Menunda

“”…mencari lagi calon pasangan yang shalihah, ketimbang memaksakan diri menikah dengan gadis yang  Anda  sendiri meragukan keshalihannya.” “

Saya, pria, usia 27 tahun. Saya sudah punya keinginan kuat untuk segera menikah. Sekarang saya sedang melakukan pendekatan dengan seorang gadis usia 24 tahun. Komunikasi yang kami lakukan dari awal sampai sekarang adalah melalui e-mail dan sms. Baru dua kali kami bertatap muka langsung. Insya Allah dengan cari ini bisa terhindar dari fitnah.

Setelah 1 bulan pendekatan, akhirnya saya utaran keseriusan saya kepada dia mengenai niat saya untuk menikahinya. Pertimbangannya adalah insya Allah bukan karena pertimbangan duniawi. Keinginan terkuat saya adalah untuk segera menyempurnakan setengah dari agama, dengan siapapun orangnya.

Masalahnya, setiap saya menanyakan tentang niat saya untuk menikahinya, dia selalu jawab tidak bisa kasih jawabannya sekarang, butuh waktu untuk mengambil keputusan berat tersebut. Ini terus berulang sampai 3 kali, dalam kurun waktu 3 bulan ini.

Sebelumnya dia pernah bilang, saya boleh melakukan pendekatan dengan yang lain, tapi kalau saya mau sabar menunggu, dia pasti akan kasih jawaban secepatnya.

Kalau dari saya sendiri, saya tidak bisa untuk memulai yang baru atau berkenalan dengan yang baru, sebelum ada keputusan yang jelas dari dia. Sikap ini saya ambil agar tidak terbebani saya utk memilih diantara dua pilihan. Apakah sikap saya ini salah, Ustadz?

Sejak pertama saya memutuskan keseriusan saya untuk menikahinya, saya sudah yakin 100 persen bahwa she’s the one. Tapi sekarang ini keyakinan itu terus menurun sebab dia selalu menunda-nunda jawaban.

Kondisinya sekarang adalah saya menjadi ragu apakah dia pilihan yang tepat untuk bisa mendampingi saya seumur hidup. Tapi dalam hati saya selalu memikirkannya, dan ada rasa rindu ketika tidak kontak sehari saja. Salah satu poin yang membuat saya ragu adalah apakah dia bisa menjadi istri yang baik untuk agamaku dan untuk keluargaku.

Namun disisi lain, yang membuat saya terus maju adalah karena janji Allah SWT bahwa kalau niat menikah adalah semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah dan untuk menjaga kesucian, Allah akan meningkatkan derajat keimanan kedua pasangan. Nah, itulah yang selalu jadi dilema dalam diri saya. Kadang maju, kadang mundur. Saya bener-bener bingung nih, Bang eddy….

Apa yang mesti saya lakukan Ustadz? Apakah saya harus mengambil sikap dengan kasih batas waktu untuk memberikan jawaban ? Apakah saya salah untuk tidak membuka hati saya untuk gadis yang lain sebelum ada jawaban yang pasti dari dia ?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih….

Jawaban :

Andayang baik, tampaknya Mas sudah punya pekerjaan yang menjanjikan untuk masa depan. Dari pemaparan dalam e-mail ini, Mas tidak megeluhkan soal-soal yang sifatnya ekonomis ataupun masalah restu orangtua. Jadi, setidaknya untuk urusan ekonomi dan dukungan orangtua, Andasaya perkirakan sudah mendapatkannya.

Saya kira tiga bulan penantian Andamesti dipersingkat. Sungguh terlalu lama menunggu jawaban : “Saya bersedia menikah dengan, Mas.”- untuk waktu tiga bulan. Masak, yang mengajak sudah bekerja, lelaki baik-baik, tapi mesti menunggu selama itu.

Mas harus menentukan batas waktu yang tidak terlalu lama kepada “si dia” untuk menjawab ajakan Mas, agar niat baik Mas untuk menyempurnakan separuh agama dan mengikuti sunah Rasul-Nya tidak terus menerus tertunda. Langkah ini perlu secepatnya dilakukan dengan catatan : Andasudah bulat hati untuk memilih “si dia” sebagai pasangan hidup.

***

By the way, dalam tiga bulan ini, Andajuga mulai meragukan kesanggupan “si dia” untuk : menjadi istri yang baik, yang kelak menjadi kawan seiring dalam menyempurnakan agamanya, agama suami dan agama keturunan-keturunannya. Tapi dilain sisi Mas merasa yakin akan : ”..janji Allah SWT bahwa kalau niat menikah adalah semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah dan untuk menjaga kesucian, Allah akan meningkatkan derajat keimanan kedua pasangan.”

Apa yang anda yakini itu betul. Tapi, apakah calon yang Mas ragukan kemampuan beragamanya itu memiliki niat yang juga sama dengan Mas Oca, yaitu menikah demi meraih ridha Allah ? Sebaiknya Andamenguji dulu kesungguhan niat “si dia” itu.

Hemat saya, jika Andaragu, sebaiknya Mas secepatnya mencari lagi pasangan hidup yang tidak menimbulkan keragu-raguan dalam urusan agama, yaitu akhwat yang mempunyai pemahaman terhadap syari’at dan mampu mengamalkannya dalam keseharian. Jangan tertipu oleh perasaan rindu, karena toh belum ada ikatan yang jelas mengikat Mas dengan ‘si dia’, orang yang anda taksir sekarang ini. Berpeganglah pada nasihat Rasulullah SAW : “Perempuan itu dikawini karena empat perkara : karena kecantikannya, keturunannya, hartanya, dan agamanya. Akan tetapi, pilihlah yang beragama agar selamatlah dirimu.”

Berpegang kepada hadits itu, maka lebih baik Andamulai mengambil prioritas : mencari lagi calon pasangan yang shalihah, ketimbang memaksakan diri menikah dengan gadis yang Andasendiri meragukan keshalihannya.

Akhir kata, semoga Andabijak memilih dan dikaruniai Allah SWT pasangan yang shalihah dan keturunan-keturunan yang shalih dan shalihah pula.

862 total views, 2 views today