Mencintainya Saat Kematian Dihadapannya

Pernahkah kamu naik pesawat ?? Coba bayangkan ketika kamu naik pesawat, tiba-tiba pesawat itu berguncang hebat, terdengar teriakan panik dimana-mana. Apa yang kamu lakukan ??

Mungkin kamu akan ikut berteriak, ketakutan, histeris, dan mungkin juga kamu akan berdoa. Karna kamu merasa bahwa kematian sedang mendekatimu. Memohon agar kematian tak terjadi saat itu, memohon agar Malaikat Maut tak segera mengambilmu, berbagai macam alasan kamu ungkapkan. Karna keluarga yang kamu cintai, karna masih banyak harus diselesaikan, bahkan yang paling special karna kamu masih banyak dosa. Jadi banyak permohonan agar kamu bisa bertahan tetap hidup.

Namun sayangnya, ketika pesawat itu mendarat dengan mulus. Semua yang terjadi dipesawat seolah-olah tak pernah ada. Keluarga yang katanya kamu cintai, ternyata setelah kejadian itu pun kamu tak ingat lagi. Masalah yang katanya harus kamu selesaikan, hanyalah urusan dunia sedangkan untuk urusan akhirat, kamu terlupa begitu saja. Kamu merasa banyak dosa, tapi setelah pesawat mendarat, ingat dosa pun ‘tidak’. Setelahnya justru maksiat makin meraja. Naudzubillah..

Itu lah ‘uniknya’ manusia, akan mengingat mati ketika kematian itu terasa terlihat oleh kita. Tapi anehnya, kita bahkan akan lupa dengan kematian saat sehat, saat kenikmatan bahkan saat kita merasa dipuncak kesenangan dunia. Itu lah kita.

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Yaa.. setiap dari kita akan mengalami kematian, kematianlah yang memutus segala perkara kenikmatan kita yang ada di dunia, kita lah yang enggan bahkan sama sekali tak ingat kematian saat kenikmatan itu datang. Padahal kematian itu akan datang kapan pun dan dimanapun, ini lah yang tak pernah kita sadari.

“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

Banyak mengingat mati sebenarnya sangat banyak pengaruhnya, nilai yang membuat kita akan selalu mengingat akhirat dan nilai yang mengingatkan kita bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Dengan mengingatnya seorang muslim akan semakin sadar untuk memperbanyak bekal dan tentunya akan menjauhak dirinya dari segala kemaksiatan.

Bukan berarti dengan mengingat mati, kita jadi terpuruk lalu ketakutan. Menjadikan kita enggan untuk berusaha didunia.Justru dari dunia ini lah ladang setiap amal kita untuk menghadapNya kelak, bagaimana mungkin kita menghadapNya tanpa bekal apapun padahal sangat jelas bahwa kita diciptakan untuk beribadah. Usaha kita didunia merupakan ibadah.

Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Shahabat yang mulia, putra dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Dia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’

‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Wallahua’lam bish Shawwab.

544 total views, 2 views today