Menghadirkan Syurga di Malam Pertama

Sayyidina Ali berkata, “Perempuan yang paling baik adalah perempan yang harum baunya, yang bagus makanannya. Tatkala ia berbelanja, ia menggunakan dengan semestinya. Tatkala memegang harta, ia menggunakan dengan semestinya. Perempuan seperti ini merupakan kreasi Allah, dan kreasi Allah tidak pernah rugi”.

Masa sesudah menikah adalah masa yang peka. Hari itu, seorang perjaka baru saja menjadi seorang suami. Hari itu, seorang gadis memulai kehidupannya menjadi seorang istri. Perasaan mereka sangat sensitive ketika pertama kali bertemu. Ada salah tingkah, tapi ada juga rasa ingin dekat. Malam zafaf atau malam pertama memang malam yang peka. Kekecewaan di mala mini dapat membawa pengaruh bagi kehidupan selanjutnya.

Islam membicarakan persoalan zafaf secara terperinci, bahkan sampai pada masalah hubungan suami istri. Ada beberapa adab yang diajarkan rasulullah SAW dalam hubungan suami istri. Misalnya, Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk tidak langsung berhubungan seksual, tapi terlebih dahulu melalui pemanasan. Rasu juga melarang sang suami seenaknya memuaskan diri sendiri, tanpa melihat kepuasan sang istri. Rasulullah SAW melarang pula pihak suami untuk bertindak kasar.

Persiapan.

Pengantin baru perlu melaksanakan persiapan, sehingga malam zafaf terlaksana dengan lancer, penuh berkah. Persiapan malam zafaf meliputi persiapan fisik, baik fisik badani maupun atribut-atribut kebendaan, serta persiapan psikis dan ruhiyyah. Untuk persiapan fisik, perlu dilakukan beberapa hal. Menurut Abdul Ghalib Ahmad, seorang lelaki hendaknya berhias dengan mencukur bulu ketia, mencukur rambut kemaluan, membersihkan janggutnya, menggunting kukunya, mandi dengan air dan sabun, serta memakai pakaian yang baru. Tentu, itu dilaksanakan jika ia berkemampuan. Jika tidak, hendaknya tetap mengenakan pakaian yang bersih. Selain itu, disunahkan bagi suami dan istri untuk menggosok gigi dan menggunakan wangi-wangian, agar suasana kemesraan lebih mudah terbangun. Demikian pentingnya menggosok gigi, sampai-samapi ada banyak hadis Nabi SAW tentang itu. Simak empat hadis-hadis tersebut.

“Kalau saja tidak memperberat umatku, tentu aku perintahkan kepada mereka agar bersiwak (menggosok gigi) setiap kali akan melakukan wudu”.

“Biasakan olehmu bersiwak. Sebab (bersiwak) dapat membersihkan mulut dan membuat keridhaan Allah”.

“Dikatakan bahwa Aisyah r.a. pernah ditanya, Pekerjaan apa yang mula-mula dilakukan oleh Rasulullah pada saat beliau memasuki rumahnya? Aisyah menjawab, Bersiwak”.

“Ali bin Abi Thalib menerangkan bahwa Rasulullah telah menegaskan, Sungguh apabila seorang hamba bersiwak, kemudian berdiri melakukan shalat, maka berdirilah malaikat di belakangnya sambil mendengarkan bacaan, lalu mendekat kepadanya sambil mendengarkan bacaan, lalu mendekat kepadanya. Kemudian malaikat itu meletakkan bibirnya pada bibir hamba itu, dan ayat-ayat yang keluar dari bibir hamba itu akan langsung masuk ke perut malaikat. Karena itu, bersihkan bibirmu dengan menggosok gigi ketika akan membaca Al-Qur’an”.

Untuk istri, tiap kali menyambut suaminya, disunahkan selalu berhias diri dengan menggunakan wangi-wangian. Dalam kitab Qurrutul ‘Uyun disebutkan tentang sebuah hadis Rasulullah SAW “Sebaik-baiknya seorang istri adalah mereka yang menggunakan pewangi dan menjaga kebersihan”. Sabda Rasul tersebut dibenarkan oleh Aisyah r.a. berkata: “Saya selalu mengolessi kening dengan minyak misik. Ketika berkeringat, minyak itu mengalir ke wajah saya, dan itu dilihat oleh Rasulullah, dan beliau tidak pernah melarangnya”.

Selain sabda Nabi, Ali bin Abi Thalib juga member pernyataan serupa, seperti dinukil pada awal bab ini. Sayidina Ali berkata, “Perempuan yang paling baik adalah perempan yang harum baunya, yang bagus makanannya. Tatkala ia berbelanja, ia menggunakan dengan semestinya. Tatkala memegang harta, ia menggunakan dengan semestinya. Perempuan seperti ini merupakan kreasi Allah, dan kreasi Allah tidak pernah rugi”.

Penggunaan wewangian itu tak hanya perlu ditujukan bagi tubuh secar keseluruhan. Namun lebih spesifik lagi, yakni pada farji (kemaluan dalam kitab Qurrutul ‘Uyun) disebutkan, di malam zafaf ada baiknya wanita memasukinya dalam keadaan telah memberikan wewangian di kemaluannya. Ini didasarkan pada anjuran mewangikan kemaluan di hari-hari biasa (bukan malam zafaf), yakni hari saat seorang perempuan selesai haid. Aisyah menerangkan bahwa Asma bertanya kepada Rasulullah SAW tentang mandi haid. Rasulullah menjawab “Hendaknya seseorang dari kamu mengambil air beserta daun bidara, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian setelah itu hendaknya ia menyiram air dikepalanya, dan menggosok-gosoknya hingga air sampai kepangkal rambutnya. Sesudah itu, hendaklah ia mengambil sepotong kapas yang sudah dikasturikan (diberi minyak wangi). Lalu membersihkan diri dengan dia”

2,264 total views, 2 views today