Seputar Obat Kuat Jima?

Posted by: Reply

SEKUPER-KUPERNYA kita di zaman sekarang, pastilah mendengar atau membaca soal “obat kuat”. Obat kuat di sini tentu saja obat kuat urusan syahwat, bukan untuk obat kuat dalam urusan pekerjaan berat.

Konon, obat-obatan jenis ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu namun bagaimana hukumnya dalam Islam?

Seorang Muslim tidak boleh hidup hanya semata-mata untuk memuaskan nafsu birahinya saja. Namun dikarenakan pemenuhan nafsu seksual adalah merupakan sebuah kebutuhan bagi manusia maka menurut Islam diperbolehkan bagi seseorang yang menggunakan obat kuat (Obat Kuat Herbal) yang tergolong aman—jika ia menderita disfungsi seksual.

Akan tetapi jangan sampai seseorang berlebih-lebihan dalam menggunakannya, atau tergantung dan sibuk dengannya. Islam mengajarkan kepada kita untuk tetap bersikap dan bertindak yang wajar-wajar saja dalam segala hal. Seseorang tidak mungkin menghabiskan seluruh waktu dalam hidupnya untuk urusan ‘ranjang’ belaka.

Pil dan obat-obatan yang dipakai untuk tujuan ini, harus bersumber dari bahan yang halal dan tidak membehayakan tubuh serta menimbulkan efek ketagihan serta  disertai konsultasi dengan dokter.

Tubuh punya hak, tamu punya hak, istri punya hak, mata punya hak atas Anda. 

Dari Abdullah Ibnu Amru Ibn Al-Ash ra., “Aku berpuasa setiap hari dan membaca Al-Quran setia malam. Berita apa yang aku lakukan itu sampai kepada Rasulullah. Beliau berkata kepadaku, ‘Aku mendengar bahwa engkau puasa setiap hari dan membaca Al-Qur’an setiap malam?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Nabi Allah. Dan aku, dengan melakukan itu semua hanya mengharapkan kebaikan.’

Beliau berkata, ‘Sebenarrnya cukup bagi kalian pusa tiga hari dalam setiap bulan.’ Aku berkata, Wahai Nabi Allah, Aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya istrimu punya hak, tamu-tamumu punya hak dan tubuhmu punya hak. Puasalah seperti puasanya Nabi Daud. Dia adalah hamba yang sangat rajin beribadah.’ Aku bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, ‘Bagaimana puasanya Daud itu?’

Beliau menjawab, ‘Daud berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari. Bacalah dengan menghatamkan Al-Qur’an dengan satu bulan satu kali.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, ‘Aku mampu melakukan lebih dari itu.’ Beliau berkata, ‘Bacalah dua puluh hari sekali.’ Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.’ Beliau berkata, ‘Bacalah setiap tujuh hari sekali saja dan jangan tambah lagi. sesungguhnya istrimu punya hak atas engkau dan tubuhmu punya hak atas engkau.’

Aku tetap mendesak untuk berbuat lebih, namun aku ditekan. Beliau berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu, bisa jadi umurmu akan panjang (dan engkau menjadi tua).’ Kemudian aku melaksanakan petunjuk Nabi kepadaku. Ketika aku sudah tua dan lemah, aku merasa beruntung menerima kemurahan (rukhsah) Nabi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)[berbagaisumber] (477).

http://www.islampos.com/hah-obat-kuat-jima-56690/

5,710 total views, 2 views today