Ta’aruf Sebagai Filter Mencari Pasangan Hidup Yang Islami

Oleh Henny Siswanto
Sebagai proses pendekatan terhadap calon pendamping hidup, Islam sama sekali tidak mengenal atau menganjurkan budaya berpacaran. Pacaran seperti yang terlihat di masyarakat saat ini dinilai lebih banyak membawa kemudharatan dan jauh dari sisi kehidupan yang Islami.

Ketika dua insan berdua-duaan tanpa ada yang mendampingi atau mengawasi banyak hal kemungkinan bisa terjadi. Kita bisa menyaksikan ketika pergaulan bebas dengan leluasa berada di tengah masyarakat dan diterima oleh masyarakat yang mayoritas muslim banyak hal negatif yang timbul. Sebut saja zinah, hamil di luar nikah, pengguguran kandungan, dan lainnya yang ironisnya semakin dianggap sebagai hal biasa bahkan diterima oleh masyarakat kita.

Pergaulan bebas yang semakin disenangi terutama oleh kaum muda dari waktu ke waktu semakin tinggi ‘kualitasnya’ bahkan seiring kemajuan zaman, pada sebagian orang malu atau dianggap kolot jika tak mengikutinya. Ironisnya orangtua yang seyogianya bisa mendidik dan mengarahkan anak, malah kadang bertindak keliru.

Timbul keresahan pada sebagian orangtua jika anaknya belum juga memiliki pacar justru pada usia yang masih belia atau remaja. Hal ini pun kadang kerap dipertanyakan kepada anak.

Dengan desakan seperti ini tentu akan membuat pola pemikiran tersendiri pada anak bahwa mau tidak mau dia harus mencari pacar. Secara tidak sadar atau disadari, anak perempuan pun menjadi bertindak agresif untuk bisa menarik perhatian lawan jenisnya.

Menurut Dariantini, Ta’aruf atau masa perkenalan sebelum menikah mutlak perlu bahkan Rasulullah pernah bersabda hal tersebut sangat dianjurkan dalam Islam. Begitupun bukan berarti ketika diberi kebebasan untuk mengenal calon pendamping hidup akan bisa berbuat seenaknya.

Menurut Ketua Pembinaan Keluarga dari Partai Keadilan Sejahtera Sumut ini Ta’aruf tersebut harus mengacu pada bagaimana pernikahan di masa Rasullulah dahulu. “Pada masa itu sama sekali tidak dikenal yang namanya pacaran, tetapi tetap dianjurkan untuk melihat pasangannya ketika ada keinginan,” katanya.

Biasanya dan lumrah adanya keinginan orang utamanya untuk melihat bagaimana fisik pasangan yang akan dinikahinya. “Tapi untuk kegiatan ini tetap harus difasilitasi, jangan hanya berdua,” katanya. Dulu pun katanya sama saja. Seperti sahabat Nabi yang suka dan menaruh hati pada lawan jenisnya. Akhirnya dilakukan penjajakan melalui perantara orangtua. “Jadi menaruh hati itu sama sekali tidak dilarang, dan memang perlu untuk ditindaklanjuti. Namun orangtua tetap harus mengawasi dan bertindak keras agar anak tidak terlanjur pada pergaulan bebas. Jangan malah mendiamkan dan merasa senang ketika anak cepat punya pasangan dan dengan bebasnya berdua bersama pasangannya,” ujarnya.

Berlama-lama berpacaran seperti yang dilakukan muda-mudi saat ini juga menurutnya tidak bisa menjamin awetnya sebuah hubungan untuk nantinya bisa menjalin ke jenjang pernikahan. Justru ketika ada niat, sebenarnya harus disegerakan. “Menurut Rasul ada beberapa hal yang harus disegerakan dan salah satunya adalah menikah,” katanya.
Ta’aruf sendiri katanya tidak ada batasan, tapi sebaiknya lebih cepat akan lebih baik. “Lebih cepat akan lebih baik. Jika terlalu lama niat nikah bisa goncang,” tambahnya. Kadangkala orang yang sudah memutuskan untuk menikah namun karena terlalu lama berpacaran akhirnya mengenal pasangannya termasuk segala kebolehan dan kekurangannya. “Niat nikah pun bisa mundur karena melihat banyaknya kekurangan pada diri pasangannya,” ucapnya.

Dia menunjukkan hadits nabi untuk memilih pasangan yakni untuk memilih wanita ada empat hal yang menentukan yakni dilihat dari kecantikan, harta, keturunan, dan agamanya. “Jika faktor agama yang dimenangkan, maka Insya Allah kehidupan akan bahagia,” katanya.

Yang harus dipersiapkan oleh pasangan adalah pertama niat. Niat yang baik jika orang yang akan menikah memandang perkawinan adalah ladang ibadah. “Jika orang memandang ini sebagai ladang ibadah jadi nikah bukan hanya untuk seks tapi nantinya akan melakukan ibadah yang lain. Masing-masing pasangan akan berusaha untuk lebih toleran, komunikatif dan saling menasehati,” katanya.
Kedua yakni persiapan fisik yakni sehat fisik agar nantinya diharapkan akan lahir keturunan yang sehat. Ketiga persiapan mental. Perkawinan merupakan perjalanan hidup yang panjang, yang kemungkinan akan disertai dengan konflik. Dengan menyadari hal ini maka perlu kekuatan mental untuk bisa saling memahami dan kesabaran.

Persiapan keempat yakni wawasan. Untuk membentuk keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan bisa mendidik anak secara Islami tentunya memerlukan wawasan yang tinggi. “Ilmu pengetahuan masing-masing harus selalu ditambah,” katanya.

Jika keempat persiapan ini telah dipenuhi oleh masing-masing pasangan, akan memudahkan nantinya menjalani kehidupan berumah tangga. Ta’aruf yang berlama-lama tanpa tujuan yang jelas katanya lebih banyak membawa kerugian dan mendatangkan maksiat yang jelas dilarang agama.

Bagaimanapun orangtua sebutnya juga tetap punya tanggung jawab untuk membina anak-anaknya dan tidak malah mengarahkan ke jalan tidak benar. Sangat disayangkan adanya ‘trend’ orangtua yang khawatir karena anak tidak dipacari justru akibat kurangnya pemahaman. “Orangtua tetap sebagai pihak yang bertanggung jawab dan semuanya nanti akan diminta pertanggungjawabanya.

806 total views, 2 views today